Sabtu, 19 Juni 2010

Pesugihan Tumbal Hewan

APA jadinya bila anak sendiri dijadikan tumbal iblis untuk memperoleh kekayaan di muka bumi ini. Kehidupan yang sulit, susah mencari kerja, patah semangat, ingin mendapat harta secara instan kadang membuat orang gelap mata. Kita seharusnya tahu bahwa apapun di dunia ini ada yang mengatur, Tuhan selalu menjaga setiap makhluknya untuk dapat hidup layak. Akan tetapi apa yang dilakukan Rusdi (nama samaran) bertolak belakang dari perintah dan kehendak Yang Di Atas.

Semua berawal dari gagalnya usaha Rusdi mencari pekerjaan, tanpa bekal pendidikan dan ketrampilan yang dimiliki akan sulit mendapat pekerjaan sesuai yang diharapkan. Sudah beberapa kali Rusdi membuka usaha, akan tetapi selalu gagal dan gagal, mungkin yang membuat gagal karena dirinya hobi judi, setiap mendapat rezeki sedikit saja selalu mencari tempat berjudi. Sekeras apapun usaha yang dilakukan Rusdi, tidak dapat menolong dirinya, judi sudah menjadi bagian dari hidupnya. Semua tahu, judi dilarang, akan tetapi tetap saja secara sembunyi- sembunyi Rusdi melakukannya. Alhasil, yang didapat tak lain adalah hancurnya keluarga, harapan dan cita-cita untuk hidup normal seperti kebanyakan orang lainnya.

Dengan rasa gontai ditelusurinya pematang sawah, Rusdi tidak menyadarinya, semua bisa begini karena akibat hobi judinya. “Apapun akan aku lakukan asal dapat uang,” Rusdi berbicara sendiri.

Sementara itu istri Rusdi dan anaknya yang masih berumur 3,5 tahun bingung, sudah dua hari Rusdi tidak pulang rumah. Beberapa penagih utang berdatangan di rumahnya, kadang orang menagih sambil marah-marah, karena sudah lama utang tak terbayar. Rasa bersalah dan takut dirasakan istri Rusdi. Sementara itu Rusdi masuk hutan mendatangi makam yang ada di tengah hutan.

Menurut kabar angin, yang di makam di dalam hutan itu dulunya selama masih hidup adalah seorang dukun jahat yang suka mencelakai orang lain, kejahatanya sudah menjadi ceritera turun menurun di kampung tersebut. Di atas makam itu berdiri pohon yang sangat besar, menaungi siapa saja yang di bawahnya.

Rasa lelah membuat Rusdi tertidur di antara akar-akar pohon, dalam tidurnya Rusdi bermimpi, bertemu dengan perempuan yang sangat cantik, perempuan itu sanggup memberikan apa saja kepada Rusdi, tetapi dengan dua syarat, yang pertama Rusdi harus mau merawat seekor kucing hitam dan harus tidur bersama kucing itu, syarat yang kedua Rusdi harus mempersembahkan anak tunggalnya untuk korban kepada penunggu makam tua itu. Tanpa pikir panjang Rusdi pun menyanggupinya. “Aku sanggup..! aku sanggup..! aku sanggup..!”,Rusdi berteriak, bersamaan itu terbangunlah dia dari tidurnya.

Di depannya seekor kucing hitam memperhatikan dirinya. “Nyai, aku akan melakukan apa saja, asalkan aku dapat kaya raya nyai,” Rusdi berteriak –teriak. Tanpa diduga secepat kilat kucing hitam telah melompat dalam pangkuannya, diam sambil menjilat-jilat tangan Rusdi. “Pulanglah Rusdi, anak istrimu sudah menunggumu, mulai saat ini engkau menjadi abdiku, apapun yang engkau inginkan akan aku kabulkan, tapi ingat, sekali saja engkau menyia-nyiakan kucing itu, aku akan mengambil nyawamu,” terdengar suara di antara pohon besar itu. “Baiklah, akan aku rawat kucing ini, seperti merawat diriku sendiri,” sela Rusdi.

Sementara itu di rumah Rusdi sudah berkumpul banyak orang, istri Rusdi menangis sejadi-jadinya. Anak tunggalnya meninggal tanpa sebab yang jelas. Beberapa tetangga berdatangan dan mempersiapkan perlengkapan pemakaman, orang yang hadir di tempat tersebut berbisik-bisik menanyakan keberadaan Rusdi. “Bapak apa itu, sudah beberapa hari tidak tidur di rumah,” timpal warga. “Memang Pak Rusdi itu orang tua yang tidak bertanggung jawab, tahunya hanya judi melulu,” terdengar suara ibu yang lain.

Dalam perjalanan pulang, Rusdi dibuat binggung, beberapa orang menyongsong kedatangannya, bahkan ada yang mengatakan dirinya harus sabar dan tawakal menghadapi cobaan. Dilihatnya rumahnya telah dipenuhi tetangga-tetangganya. “Ada apa ini,” suaranya lirih. Begitu melihat anaknya telah tiada, rasa sedih tak tertahankan. Dalam hati Rusdi mengaku, bahwa kematian anaknya adalah akibat perjanjiannya dengan penunggu pohon di tengah hutan itu.

Beberapa bulan kemudian perekonomian Rusdi melonjak dengan sangat cepat, rumah yang dulunya dari papan kini berubah menjadi gedung yang sangat megah dengan tembok yang dikelilingi pagar. Tampak dua buah mobil terparkir di serambi rumah, baju yang dulunya kumal berubah menjadi jas yang selalu berganti-ganti. Di rumah Rusdi juga terdapat ruangan khusus untuk menempatkan sesajian yang diperuntukkan kepada kucing hitam yang dia bawa dari hutan. Segala yang diinginkan keluarga ini tercapai sudah, uang tidak menjadi masalah.

Apa yang didapat Rusdi secara cepat, membuat para tetangganya menaruh curiga, apalagi Rusdi tidak punya pekerjaan tetap, yang lebih menyedihkan lagi di malam–malam tertentu sering terdengar anak kecil memanggil–manggil nama Rusdi, siapa lagi kalau bukan anaknya yang telah meninggal beberapa bulan yang lalu.

Melihat hal yang janggal itu, atas kesepakatan warga yang lain dilaporkan kepada kepala desa setempat. Mendapat laporan dari warganya, lurah desa Burhadi menyatakan kepada warganya untuk tidak terlalu berprasangka buruk dulu dan diharapkan warga tenang, dia akan menyelidiki apakah yang dilakukakan keluarga Rusdi keluar dari kaidah agama.

Walaupun Rusdi berusaha menutupi perbuatan maksiatnya, tetap saja beberapa tetangganya mengetahuinya. Sepandai- pandai tupai melompat akhirnya jatuh jua. Diam–diam beberapa warga memperhatikan setiap langkah yang diperbuat Rusdi. Melalui pembantunya apa yang telah diperbuat Rusdi mulai terkuak. “Benar Pak Lurah, juragan saya itu kalau makan dan tidur bersama kucing hitam, dan ada satu kamar yang khusus digunakan untuk sesaji, tidak boleh siapapun masuk kamar pribadi itu,” tutur pembantu Rusdi.

Akan tetapi sebelum Lurah dan warga desa bertindak, terdengar khabar bahwa juragan Rusdi meninggal digigit binatang buas. Banyak orang yang tidak percaya, di desa tersebut tidak ada binatang buas yang ada hanya hewan sebangsa anjing, kucing peliharaan pendududk desa.

Berita meninggalnya juragan Rusdi cepat tersebar luas di kampung tersebut, beberapa orang bertanya–tanya, apa penyebab juragan yang kaya raya itu meninggal.

Dua hari setelah pemakaman Rusdi, Miarsih, istri Rusdi mendatangi lurah desanya. “Ampun Pak Lurah, suami saya meninggal saya penyebabnya, itu semua terjadi karena suami saya telah tega mengorbankan anaknya untuk tumbal mencari kekayaan. Kucing hitam yang ada di rumah saya itu yang membuat suami saya berbuat begitu. Terpaksa saya pukul dengan balok kayu hingga mati, akan tetapi ternyata matinya kucing itu membawa nyawa bagi suami saya,” tutur Miarsih istri Rusdi.

Mendengar keterangan itu, Kepala desa tidak dapat berbuat apa-apa. Apa yang diperbuat Rusdi telah mendapat ganjarannya. Dari kejadian itu dapat menjadikan contoh warga desa yang lain, bahwa apa yang didapat dari yang tidak wajar, hanya membawa kesenangan sesaat dan berakhir penyesalan berkepanjangan.

Para tetangga Rusdi di hari-hari tertentu sering mendengar suara Rusdi sedang menangis minta tolong, tangisan Rusdi menyayat hati, minta ampun pada anak dan istrinya. Tetapi kejadian itu sudah menjadi kisah bagi warga desa. Kini Rusdi tinggal empertanggungjawabkan perbuatanya selama hidup di dunia di hadapan-Nya.

sumber : pos metro balikpapan

NGUJANG pesuhihan KERA DITULUNGAGUNG.


NGUJANGTULUNG AGUNG.jika kamu memasuki kota Tulungagung dari arah utara maka pasti kamu akan melewati desa Ngujang. Jika ada orang yang menyebut desa Ngujang maka yang terbayang pertama kali di benak orang yang mendengarnya adalah “kompleks” dan “”. “Kompleks” di sini adalah kompleks lokalisasi tempat para PSK (maaf) “menjajakan” dirinya. Sedangkan “kethekan” adalah sebuah tempat pemakaman umum yang menjadi tempat tinggal populasi beberapa ekor “kethek” atau monyet. Oleh sebab itulah tempat ini biasa disebut “kethekan” yang artinya tempat hidup monyet.MAU KAYA KLIK DISINI

“Kethekan” berada tepat di sebelah selatan sungai Brantas, di ujung utara desa Ngujang. Di sebelah selatan sungai Brantas sebenarnya ada dua tempat pemakaman umum, di sebelah timur jalan raya adalah makam orang Cina. Tempatnya agak tertutup karena di sekeliling makam dipagari hingga orang tak bisa masuk ke dalamnya. Pancen yo kuburan cino. Cino…. Cino…. Sedangkan di sebelah barat adalah makam umum, tapi kebanyakan adalah makam orang Jawa. Nah, makam inilah yang biasa orang sebut “kethekan”. Biasanya pada hari raya Idul Fitri, tempat ini ramai dikunjungi orang. Ibarat pasar, ada penjual makanan, mainan, dsb. Sekedar untuk berwisata atau geren. Tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang ingin berwisata.

Sejarahe Kethekan (Sumber dari : Juru Kunci Makam Desa Ngujang)

Dahulu kala, di desa ngantru ada sebuah pondok pesantren yang letaknya tak jauh dari desa ngujang. Sekarang pun, pondok itu masih ada dan masih eksist. Pada suatu hari, ada dua orang santri, laki-laki dan perempuan dari pondok tersebut yang bemain-main di sekitar makam. Dahulu tempat tersebut bukanlah makam, hanya tempat biasa yang rindang karena banyak pohon-pohon besar yang tumbuh di tempat itu. Sekarang pun pohon-pohon besar masih bisa kita jumpai di situ. Dua santri itu sengaja membolos dari pengajian untuk bermain-main di situ. Mereka bermain sambail memanjat pohon yang ada di situ.

Karena asyik bermain mereka lupa kalau ada pengajian pada hari itu. Mereka tidak datang dalam acara pengajian yang rutin diadakan pondok. Tiba-tiba seorang kyai dari pondok tersebut datang ke tempat tersebut dan bertemu dua santri tersebut. Kedua santri itu sedang memanjat pohon ketika pak kyai datang. Melihat ada dua santrinya yang tidak mengikuti pengajian, sang kyai pun menegur dua santrinya itu.

“Nduk.. le.. kowe opo ora ngaji to le? Kae lho deloken konco-koncomu podo ngaji neng pondok. Kowe kok malah penekan neng kene. Kayak kethek ae!” (Nak, kamu tidak ikut ngaji? Lihat teman-teman kamu sedang mengaji di pondok. Kamu kok malah memanjat pohon di sini. Seperti monyet saja!)

Menurut legenda, kata-kata kyai itu adalah kutukan bagi dua santrinya itu. Kedua santri itu konon menjadi monyet yang hidup di sekitar makam desa Ngujang. Monyet yang sering kita jumpai di sekitar makam desa Ngujang adalah keturunan dari dua santri yang dikutuk menjadi monyet oleh kyai pondok tersebut. Sejak saat itu, desa itu disebut sebagai desa Ngujang yang berasal dari kata pawejangan yang artinya tempat menuntut ilmu (pondok).

Deso Pesugihan

Menurut cerita penduduk sekitar, desa ngujang mempunyai tempat untuk mencari pesugihan. Tempat itu adalah “kethekan”. Konon, barang siapa yang meminta juru kunci untuk membantu mencari pesugihan maka ia akan diberi seekor monyet yang dijadikan sebagai ingon atau peliharaan untuk dapat mendatangkan rezeki. Tapi sebelum kamu diberi seekor monyet kamu akan diminta untuk melakukan suatu ritual terlebih dahulu. Dan setiap tahun pada tanggal 1 Suro, semua orang yang pernah mencari pesugihan di sini akan dimintai sumbangan tertentu untuk mengadakan ritual semacam selamatan. Semua orang yang pernah mencari pesugihan di sini akan diundang dalam acara selamatan tersebut.

Tapi semua rezeki itu datangnya dari Allah. Tetap berusaha dan berdoa niscaya Allah akan mengabulkan semua doa hamba-hambanya.

Pesugihan Nikah Dengan Jin Cantik

Baru baru ini saya ada ngobrol dengan teman dan dia cerita mengenai pesugihan yang bisa bikin penganutnya jadi kaya raya mendadak.

Dia bilang, ada sebuah tempat (katanya sih di sebuah gua) di sekitaran Garut yang jadi tempat untuk mencari harta secara gaib.
Ada tiga jalur cara yang bisa dipilih, dengan menyatu dengan ular siluman, dengan buaya atau nikah dengan Ratu Jin. Klik disini

Dari ketiga cara tersebut diatas, yang sering dipilih adalah yang dengan Ratu Jin itu.
Syarat dasarnya, kalau pria tersebut sudah kimpoi, harus minta izin dulu dari istrinya, kalau masih bujangan, bisa minta izin ortunya.

Kalau sudah disetujui oleh kerabat dekatnya, yang tinggal sekarang adalah syarat syarat fisik yang harus ada dan itu biasanya sudah jadi urusan kuncennya.

Seperti pernikahan pada umumnya, harus ada wali, saksi dan juga penghulunya (yang ini bisa dilakukan oleh kuncennya).
Setelah upacara pernikahan, seperti biasanya, si pengantin pria akan disuruh pulang dan menunggu berita, kapan si ratu akan datang.

Perwujudan dari ratu tersebut, konon kabarnya menyerupai wanita yang sangat sangat cantik dan sempurna.
Si pengantin pria harus menyiapkan kamar khusus dan biasa dipertemukan oleh sang ratu tiap malam Jumat Kliwon atau tanggal/hari2 tertentu saja.

Biasanya, setelah pertemuan barulah ada penampakan harta dalam bentuk emas atau uang yang biasanya akan muncul secara gaib ditempat yang sudah disiapkan didalam kamar khusus tersebut.

Pantangannya, si suami tidak boleh main perempuan & gak boleh kimpoi lagi, cukup dengan si istri yang sudah ada sekarang dan juga dengan sang ratu itu sendiri.
Kalaupun kekhilafan terjadi, si pria akan dihukum atau kalau terlalu berat pelanggarannya, bisa dibawa orang itu ke alamnya.

Banyak pengikut disekitar Jawa Barat yang malah justru naik haji dari uang hasil pesugihan ini dan juga menyumbang mesjid, padahal pekerjaan sehari harinya hanya ala kadarnya saja.

Ini hanya sekedar cerita dengan tujuan menambah wawasan saja, selebihnya hanya pembaca yang menilai baik buruknya cara cara tersebut.

Goa Langse ( keraton Jin )


GOA LANGSE yang terletak di kaki tebing Parangtritis merupakan tempat tetirah yang terkenal, meskipun di sekitarnya juga banyak kawasan serupa, seperti Goa Tapan, Sendang Beji, maupun Goa Siluman. Dalam buku-buku tulisannya, Dr. Hermanus Johannes de Graaf, ilmuwan Belanda yang mengkhususkan diri dalam pengkajian tanah Jawa, menyebut Goa Langse sebagai Goa Kanjeng Ratu Kidul. Oleh sebab itu, Goa ini merupakan tempat yang sering dikunjungi oleh reraja Mataram. Di Goa ini konon pernah bersemedi pula Syekh Siti Jenar maupun Sunan Kalijaga.ANDA MAU KAYA Klik disini

Tempat pertemuan dua penguasa dari alam yang berbeda itu dikenal dengan nama Goa Langse. Goa ini termasuk dalam wilayah administratif Desa Girirejo, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DI Yogyakarta. Goa yang hingga kini dikenal sebagai tempat semadi atau “nenepi” itu jaraknya sekitar 30 kilometer arah selatan Kota Yogyakarta. Setiap hari, selalu ada orang yang mendatangi tempat ini, dengan maksud memanjatkan doa agar memperoleh keberhasilan dan kesejahteraan dalam hidupnya. Pada saat tertentu seperti malam Selasa dan Jumat Kliwon, pengunjung Goa Langse lebih banyak lagi jumlahnya, rata-rata mencapai 30 orang.

Bahkan, pada bulan Sura, waktu yang dipercayai sebagai bulan berkah bagi masyarakat Jawa, pengunjungnya bisa mencapai 70 orang setiap harinya. Perjalanan menuju Goa Langse terbilang cukup mengasyikkan. Setelah berjalan kaki sekitar 150 meter melintasi hamparan ladang dan perkebunan pohon jati, pengunjung akan sampai di “plawangan” atau bibir tebing dengan batu-batu besar. Di bawahnya terhampar lautan biru yang luas, terbingkai garis cakrawala. Pantai Parangtritis yang terletak di sebelah utara Goa Langse pun terlihat dari “plawangan”. Di bawah salah satu batu besar di bibir tebing ini terdapat sisa-sisa bunga, menandakan sering digunakan untuk tempat bersemadi atau berdoa.

Dari pantai Parangtritis untuk menuju Goa Langse masih harus berjalan sekitar 3 km ke arah timur. Jika malas berjalan ada ojek yang siap mengantarkan Anda dengan tarif Rp 4.000,-. Namun ojek ini tidak sampai di pinggir tebing sehingga masih harus berjalan kaki sekitar 750 m menyusuri jalan setapak di antara rerimbunan ladang. Sebelum menuju ke Goa, Anda akan diminta mengisi buku tamu dan memberi donasi bagi perawatan Goa. Dari sini, Anda diantar oleh salah seorang penjaga, langsung menuju ke Goa.

Jangan kaget atau merasa ngeri ketika Anda sudah berada di bibir tebing. Dengan ketinggian tebing, sekitar 400 m dan nyaris tegak lurus, perjalanan menuju Goa Langse menjadi tantangan tersendiri. Jalan menuju ke kaki tebing tempat Goa Langse berada berupa campuran antara tangga (ada 4 buah pada tempat yang terpisah), akar, dan tonjolan bebatuan.

Sesampainya di Goa, pengunjung bisa mandi di salah satu bilik. Air yang dipakai mandi berasal dari mata air yang keluar dari dalam Goa. Airnya yang dingin dan tawar serta mengandung kadar kapur tinggi bisa menghilangkan kelelahan akibat perjalanan menuju Goa. Selesai mandi, barulah Anda dipersilakan untuk bersemedi. Kesunyian di dalam Goa sangat membantu untuk memusatkan pikiran. Suara yang terdengar hanyalah debur ombak pantai selatan.

Suasana goa yang terasa sejuk dan hening, sangat membantu untuk memusatkan pikiran, bermeditasi memanjatkan permohonan pada Tuhan. Di luar goa, tepatnya dari gardu pandang yang letaknya sekitar 20 meter di utara goa, pemandangan birunya laut, deburan ombak, dan gundukan-gundukan karang menambah ketenangan pikiran dan jiwa. Meski secara fisik melelahkan, di tempat inilah pengunjung dapat mensyukuri karunia Yang Maha Kuasa, melalui pengalaman bermeditasi sekaligus menikmati pemandangan laut selatan yang masih alami.

Namun, tempat ini bukanlah akhir dari perjalanan ke Goa Langse. Pinggiran tebing itu hanya permulaan dari sebuah perjalanan yang menantang fisik dan mental. Dengan panduan juru kunci setempat, pengunjung harus menuruni tebing yang hampir tegak lurus, dengan ketinggian mencapai 300 meter di atas permukaan laut, untuk mencapai lokasi goa.

Di sejumlah bagian, perjalanan turun tebing bisa dilakukan dengan tangga besi yang didirikan tegak lurus, namun sisanya dilakukan dengan cara berpijak pada batu-batu tebing, dengan bantuan pegangan pada akar pohon, atau batang-batang bambu yang menempel di dinding tebing. Setelah perjalanan turun itu sampai pada ketinggian 30 meter di atas permukaan laut, pengunjung bisa langsung masuk ke dalam goa.

Goa Langse terhitung lebih luas jika dibandingkan goa-goa alam lain di DIY. Panjangnya lebih kurang 30 meter, lebarnya sekitar 10 meter, dan tingginya mencapai 20 meter, dengan stalaktit bergantungan di langit-langit goa. Di ujung goa, terdapat mata air yang biasanya digunakan pengunjung untuk membasuh diri. Airnya yang dingin dan tawar, serta mengandung kadar kapur tinggi, menghilangkan rasa lelah setelah perjalanan berat menuju Goa Langse. Di sebelah mata air itu, terdapat tempat datar yang biasa digunakan untuk bersemedi.

Gunungku Tempat Uangku ( pesugihan G.kemukus )

Gunung Kemukus, Sragen, Jawa Tengah. Kawasan itu dikenal bukan karena keindahan alamnya. Ratusan bahkan ribuan dari berbagai kota datang ke sana hanya untuk berziarah dan ritual pesugihan. Pelaksanaan ritual sebenarnya bisa dilaksanakan setiap hari. Namun, terdapat hari-hari tertentu yang dipercaya membawa berkah tersendiri. Misalnya, saat malam Jumat Pon dan malam Satu Suro.

Lokasi utama yang dituju para peziarah adalah makam Pangeran Samudro dan para pengawalnya. Konon, Pangeran Samudro adalah seorang pangeran dari Kerajaan Majapahit. Tapi ada pula yang menyebut dia dari zaman Pajang. Dia jatuh cinta kepada ibu tirinya, Dewi Ontrowulan. Ayahnya yang mengetahui hubungan anak-ibu itu menjadi murka. Pangeran Samudro lantas diusir. Dalam kenastapaannya, dia mencoba melupakan kesedihannya dengan melanglang buana. Akhirnya ia sampai ke Gunung
Kemukus.

Tak lama kemudian, sang ibu menyusul anaknya ke Gunung Kemukus untuk melepaskan kerinduan. Namun nahas, sebelum sempat berhubungan badan, penduduk sekitar memergokinya. Keduanya dirajam beramai-ramai hingga akhirnya tewas. Keduanya kemudian dikuburkan dalam satu liang lahat di gunung itu. Tapi menurut cerita, sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir Pangeran Samudro sempat meninggalkan sebuah pesan. Ia berujar,”siapa saja yang dapat melanjutkan hubungan suami-istrinya yang tidak sempat terlaksana itu akan terkabul semua permintaannya”.

Ada pula yang meyakini kuburan itu adalah milik Syeikh Siti Djenar. Dia dihukum para wali karena dianggap menyebarkan ajaran sesat. “Dia dieksekusi di situ,” kata KRHT Kresno Handayaningrat, tokoh budaya setempat.

Memang, tak ada catatan sejarah mengenai sosok Pangeran Samudro. Namun, mitos telah telanjur berkembang. Orang yang mengunjungi makam Sang Pangeran dipercaya memperoleh berkah, berupa jabatan dan harta kekayaan.

Tentu saja menjalankan ritual pesugihan di tempat itu adalah hak masing-masing peziarah. Sayangnya, ritual itu kemudian berkembang dengan bumbu seks bebas yang dilakoni sebagian peziarah. Lagi-lagi kegiatan menyimpang tersebut dipengaruhi mitos. Pangeran Samudero juga berbuat yang sama dengan ibu tirinya di sana.

Nanti malam adalah malam Jumat Pon. Para peziarah mulai bersiap untuk melakukan ritual pesugihan di Makam Pangeran Samudro. Sebelum memasuki arel makam, para peziarah harus mengunjungi Sendang Ontrowulan dan Sendang Taruno. Di sana, mereka membersihkan diri, seperti yang dilakukan Dewi Ontrowulan ketika akan menemui Pangeran Samudro.

Jika pembersihan diri telah dilaksanakan, para penziarah menemui kuncen Sendang. Mereka meminta restu dan mengutarakan permintaan sebelum mendatangi makam. Saat itu, sebagian peziarah membawa pasangan di luar nikah. Kelak, beberapa pasangan dadakan tersebut akan berhubungan seks yang dipercaya sebagai prasyarat ritual.

Lain lagi menurut Hasto Pratomo, juru kunci atau kuncen senior makam. “Tidak ada syarat tertentu hanya bawa bunga. Dengan panduan juru kunci kita berdoa. Tawassul atau tahlil supaya dapat barokah,” kata dia.

Kini, tiba saatnya bagi para peziarah untuk melaksanakan ritual di makam Pangeran Samudro. Tidak ada panduan resmi, bagaimana ritual harus dilakukan. Yang jelas, para peziarah harus menyampaikan maksud kedatangan dan mengutarakan permintaan yang diinginkan. Tentu saja, tidak semua peziarah melakukan seks bebas usai melakukan ritual di makam Sang Pangeran. Namun, tak sedikit di antara mereka melakukan hal itu.

Bagi peziarah yang percaya harus melakukan seks bebas di sekitar komplek makam, tersedia kamar-kamar yang disewakan. Jika kebetulan tidak mempunyai pasangan dadakan, para penyedia jasa penyewaan kamar juga menyediakan wanita teman kencan. “Awalnya malu, tapi kalau dua kali tiga kali sudah biasa dan seperti suami isteri,” Miswan, seorang peziarah.

Mitos tentang seks bebas sebagai prasyarat pesugihan di Gunung Kemukus akhirnya menyuburkan prostitusi. Para pekerja seks komersial menjadi teman kencan bagi para penziarah yang tidak mempunyai pasangan. Tak ada yang melarang aktivitas seks atau sekedar minum minuman keras dan berjudi di sana. “Meski ada plang larangan judi, asusila, dan minum, buktinya tidak apa-apa,” kata Wuni, seorang PSK.

Masyarakat di sana juga tidak merasa terganggu. Apalagi, mereka mendapatkan uang dari aktivitas itu. “Pendapatan masyarakat dari sewa, jual makanan. Masalah gituan tidak ada masalah,” ujar Dharmanto, kepala Dusun Kemukus.

Prostitusi sebagai dampak mitos ritual seks bebas di Gunung Kemukus sebenarnya telah disadari pemerintah dan kepolisian Sragen. Namun, sejauh ini kedua instansi tak berdaya karena keuntungan ekonomis dari kegiatan tersebut telah menjadi sumber pendapatan warga sekitar.

Meski demikian, bukan berarti aktivitas itu dibiarkan. “Kita tidak mungkin melakukan secara frontal, harus ada pembelajaran yang manusiawi dengan mengangkat kesejahteraan warga,” tutur Kepala Kepolisian Sragen Ajun Komisaris Besar Polisi Charles Ngili.

~ oleh bungkang di/pada 23 April 2010.

Ditulis dalam pesugihan
Tag: KemukuS, ritual, SeKs

misteri nyai roro kidul

enomena gaib Kanjeng Ratu Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan sangat terkenal di jagat mistik Nusantara. Beragam versi cerita sudah banyak dikemukakan. Bahkan diangkat ke layar lebar.

Sejumlah saksi yang pernah melihat sosoknya banyak dipaparkan. Tetapi siapakah sebenarnya perempuan yang ditahbiskan sebagai Penguasa Laut Selatan itu?

1. Legenda

Ada 2 versi cerita/legenda mengenai keberadaan Kanjeng Ratu Roro Kidul yaitu: Pertama, cerita tentang Kanjeng Ratu Roro Kidul yang berasal dari manusia, kemudian masuk ke alam gaib (jin).

Dikisahkan bahwa Kanjeng Ratu Roro Kidul adalah puteri seorang raja dari isteri pertama. Suatu ketika terjadi intrik dalam kerajaan yang dipicu oleh kecemburuan isteri-isteri raja yang lebih muda. Akibatnya, Kanjeng Ratu Roro Kidul dan ibunya diserang suatu penyakit aneh (teluh/santet) dan diusir dari kerajaan. Si ibu menemui ajal, sedangkan Roro Kidul mencari kesembuhan dengan berdiam di kawasan pantai selatan. Disini, ia berjumpa dengan jin penguasa laut yang menjanjikan kesembuhan penyakitnya tetapi dengan syarat Roro Kidul harus ikut ke dalam kerajaan lautnya. Roro Kidul menyanggupinya. Selanjutnya, Kanjeng Ratu Roro Kidul diangkat menjadi ratu setelah penguasa sebelumnya meninggal.

Uniknya, asal usul daerah Roro Kidul itu juga beragam. Ada yang mengisahkan, Roro Kidul berasal dari tanah Jawa. Tetapi ada juga cerita Kanjeng Ratu Roro Kidul itu adalah kakak dari Saribu Raja yang merupakan keturunan Raja Batak. Nama asli Kanjeng Ratu Roro Kidul adalah Biding Laut.

Kedua, cerita rekaan buatan manusia. Cerita ini berkaitan dengan kisah Sultan Agung, penguasa Kerajaan Mataram. Dikisahkan, ketika Sultan Agung berkuasa, dia berharap agar rakyatnya hidup tentram dan tidak berniat melakukan pemberontakan sebagaimana pernah dialami kerajaan-kerajaan pendahulunya seperti Singosari, Majapahit, Demak, dll. Didorong untuk mencegah terjadinya pemberontakan itulah Sultan Agung mengeluarkan maklumat seputar kebesaran Kerajaan Mataram.

Sultan Agung mengklaim bahwa kekuasaannya bukan hanya meliputi tanah Jawa melainkan mencakup lautannya. Agar supaya klaimnya menjadi logis, maka Sultan Agung memaklumkan pula bahwa dia menjalin kerjasama dengan Kanjeng Ratu Roro Kidul, Penguasa Laut Selatan.

Strategi ini cukup jitu mengingat budaya dan tradisi Jawa yang kental dengan aroma mistik. Bahkan beredar pula cerita bahwa pada bulan Suro (Muharram), masyarakat tanah Jawa dilarang mengadakan pesta atau hajatan, karena di bulan itu Kanjeng Ratu Roro Kidul sedang menyelenggarakan hajatan di kerajaan lautnya. Padahal alasan sesungguhnya karena di bulan Suro itu penguasa Mataram mengadakan pesta, seperti pernikahan kerabat kerajaan.

2. Penuturan beberapa orang saksi yang pernah bertemu Kanjeng Ratu Roro Kidul

Pertama, Pengalaman seorang Ibu Rumah Tangga di Kec. Ciemas Sukabumi.

Cerita ini tiada lain datang dari seorang ibu rumah tangga yang sekarang di kenal menjadi seorang dukun (Tabib) yang berdasarkan beberapa penuturan bahwa kekuatan yang menjadikan dirinya menjadi seorang dukun adalah berkat bantuan dari Kenjeng Ratu Roro Kidul. Kebanyakan orang telah mengakui kesaktiannya sehingga tak heran banyak kalangan pejabat yang telah meminta bantuannya untuk kelangsungan karirnya. sehingga tak pelak kekayaan dari seorang ibu separuh baya ini telah melimpah ruah hasil dari menajdi tabibnya ini. Karena setiap yang datang kesana selalu memberikan materi yang jumlahnya yak sedikit, bahkan pemberianya itu bisa langsung berwujud mobil mewah dan yang lainnya.

Beliau ini adalah memiliki nama KUJUN, Penulis sering memanggilnya Bi Kujun tempat tinggalnya masih satu kecamatan dengan penulis namun berbeda Desa. Dahulu kala, sekitar tahun 70-an yang lalu saat itu dirinya merupakan gadis desa yang disaat usianya yang masih muda dirinya udah di nikahkan oleh kedua orang tuanya sama laki-laki tetangga kampugnya. Khidupan rumah tangganya tidak se indah yang mungkin di alami oleh pasangan suami-istri yang lainnya, namun rumah tangganya selalui di hiasi oleh percekcokan dan tak pelak dengan pertengkaran yang hebat serta mendapat perlakuan yang kasar dari suaminya ini.

Suatu hari tepatnya sore hari saat itu siang sudah menuju malam yang di tandai oleh mulai berkomandangnya adzan magrib dari setiap penjuru masjid di berbagai kampung yang letaknya lumayan berjaihan antara kampung yang satu dengan yang lainnya, jalanan sepi dan mulai gelap karena waktu itu belum ada yang namnya listrik apalagi alat komunikasi dan informasi seperti televisi dan yang lainnya, tiap keluarga hanya mengandalkan lampu cempor untuk penerangan setiap rumah panggungnya apabila malam tiba. kala itu, Bi KuJun ini sudah mendapatkan perlakuan yang buruk dan diusir oleh suaminya. Sehingga dengan hati yang pedih, mata yang terus berlinang dan pikiran yang tak tentu tujuan memaksakan diri keluar meninggalkan rumah menggunakan pakaian seadanya melangkahkan kaki hendak menuju rumah orang tuanya yang lumayan jaraknya cukup jauh apalagi malam mulai gelap sementara kendaraan umum belum ada waktu itu. Dengan pikiran yang kalut, dirinya mencoba menyusuri jalan, melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah walaupun dirasanya cukup berat untuk di langkahkan. Lamaunan & pikiran yang semerawutnya membawanya sampai kealam bawah sadar, dan waktu itu tiba-tiba seperti melihat arak-arakan ratusan aneka mobil yang membawa berbagai macam kebutuhan; beberapa mobil truk membawa beras, kelapa, sayur-mayur, daun pisang dan janur serta banyak lagi yang lainnya. Percisnya rombongan itu seperti membawa barang-barang yang mau mengadakan pesta besar-besaran. Tiba-tiba diantara gerombolan antrian mobil itu terdapat sedan mewah yang didalamnya terduduk seorang putri nan cantik yang kemudian sengaja berhenti di depan Bi Kujun ini, kemudian putri ini mengajaknya untuk masuk kedalam mobilnya. Akhirnya Bi Kujun pun masuk dan ikut diantara rombongan itu. Sepanjang perjalanan putri itupun meminta penjelasan kepada dirinya kenapa dia ada terlunta di jalan dikala hari menjelang malam seperti itu dan Bi Kujunpun menjelaskan semuanya. Kemudian putri itu mengajaknya untuk ikut ke Keratonnya dan tinggal bersama dirinya. Karena tak ada pilihan lain, akhirnya Bi Kujunpun mengikuti semua ajakan dari putri ini.

Dalam pikiran setengah sadarnya, Bi Kujun ini melihat rombongan mobil setelah menempuh perjalan panjangnya tiba-tiba mulai masuk satu persatu ke dalam laut tepatnya di Pelabuhan Ratu dan seteleh mendapat penjelasan dari putri itu ternyata dirinya mengaku adalah Nyi Roro Kidul yang saat itu mau mengadakan pesta besar-besaran di dalam kerajaanya. Pantas saja karena waktu memang lagi musim kemarau dan daedaunan semua kena ulat dan hasil panen masyarakat kurang hasil. Sehingga masyarakat meyakini memang saat itu hasilnya sebagian di bawa oleh penguasa laut kidul itu.

Selama 3 bulan dia dianggap hilang oleh keluarganya sampai dicara ke mana-mana dan ditanyakana k beberapa dukun yang bisa melacak keberadaannya. Hamper semua dukun mengatakan bahwa dia memang masih ada dan dalam waktu tertentu dia akan kembali dengan keistimewaanya. Kemudian tepat 3 bulan dari sejak dia menghilang, diapun di antar kembali oleh pihak keratin nyi Roro Kidul.

Selama di keratin nyi roro kidul, ternyata dia di bekali berbagai ilmu baik kanuragan, ilmu sareat pnyembuh bagi orang sakit, ilmu peramal dan banyak lagi yang lainnya. Yang katanya kekuatannya itu di Bantu oleh kekuatan dari nyi Roro kidul itu sendiri. Sehingga Bi Kujunpun kini telah berubah menjadi seorang tabib sakti yang banyak diminta pertolongnya oleh orang-orang baik kelas ekonomi lemah bakan sampai pejabat sekalipun, dan kini seuaminyapun menjadi sangat dekat kembali dengan dirinya. Dia dipercayai bisa memenuhi segala apa yang saat itu di pinta pertolonganya baik kesembuhan sakit, minta naik jabatan dan yang lainnya. Sehingga tak heran jika imbalan di terima pun sangat wah…..!!! ada satu lagi yang menarik, pendapat dari beberap pasien yang pernah ke rumahnya…. Mereka mengatakan bahwa, di rumah sang tabib ini memiliki salah satu keanehan juga, dimana ketika kita minta sesuatu seprti minta apel maka tiba-tiba apel itu udah ada di hadapan kita.

Percaya atau tidak, tergantung orang yang mau mempercayainya. Untuk sekedar bertanya atau apa, Anda bisa bisa menemuinya mumpung biliau-nya masih ada. Datang dan temui dia di Kampung Cikira-Cibinong Desa Mekarja Kecamatan Ciemas Kabuapten Sukabumi.

Penulis tidak menyuruh anda percaya, tapi tergantung pada diri masing-masing. Jika kita umat islam, kita hanya percaya sama Allah SWT. Mungkin jika Bi Kujun ini memiliki keistimewaan, anggap saja itu suatu kelebihan dia yang telah allah rencanakan dan dia hanyalah sareat perantara. Kesembuhan dari sakit itu adalah atas ijin Allah, dan yang lainnyapun atas ijin Allah. Maka semuanya tergantung hanya pa Allah SWT, sebagai tuhan yang maha kuasa dan maha bijaksana.

Kedua, Adanya Kamar Nyi Roro Kidul di Hotel Samudra (Pelabuhan Ratu)

Banyak ceritra tentang keberadaan kamar yang di sediakan khusus untuk nyi Roro Kidul ini memang ada, yaitu tepatnya di salah satu hotel terbesar yang ada di Pelabuhan Ratu, tepatnya yaitu di Hotel Samudra. Hotel samudra memang hotel terbesar di Pelabuhan Ratu yang mungkin telah banyak di kenal oleh para turis baik lokal maupun internasional.

Kamar khusus Nyi Roro Kidul ini memang di sediakan khusu oleh pemilik hotel. yang konon katanya Nyi Roro Kidul memang memintanya dan dia sering datang ke Hotel tersebut. Jika anda sebagai orang yang sering penasaran atau ragu, silahkan datangi Hotel Samudra (Samudra Beach Hotel) di Pelabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat.

Ketiga, kesaksian Abdul (20 thn), warga Lomanis, Cilacap.

Suatu ketika, ia sedang bersantai di pantai pasir putih Pulau Nusakambangan. Menurutnya, dalam jarak sekitar 50 meter dari garis pantai, ia melihat Sang Ratu menaiki kereta kencana yang di iringi ratusan pengawalnya. Ia melihat gaun Sang Ratu sangat panjang yang membentang dibelakangnya.

Meski ia melihat mahkota di atas kepalanya Sang Ratu, tetapi wajahnya hanya terlihat dari samping. Penampakan yang ia saksikan sekitar jam 20.00 malam disusul dengan hilangnya kesadaran selama hampir satu minggu. Syukurlah, sejumlah Kyai berhasil menyembuhkannya.

Keempat, kesaksian Ahmad Durriati (70 thn), warga kotagede, Yogyakarta. Pengalaman pertama saat ia bersama putranya sedang mengadakan tirakat di pantai Parang Tritis. Menjelang tengah malam, suatu penampakan luar biasa ia saksikan yakni bangunan tembok setinggi sekitar 5 meter yang membentang sepanjang pantai.

Jaraknya kurang lebih 20 meter dari garis pantai. Di beberapa bagian bangunan tembok yang mirip benteng itu, ia dan putranya melihat sejumlah orang yang berada di atasnya, seperti sedang dalam posisi berjaga. Penjaga yang tegak berdiri dengan tombak ditangannya.

Pengalaman kedua terjadi saat ia sakit keras sehingga berada dalam kondisi koma. Dalam ketidaksadarannya itu, ia seolah berada dalam kerajaan Roro Kidul. Disana, ia melihat orang-orang yang sedang sibuk bekerja mendirikan tembok-tembok bangunan layaknya sedang ada pembangunan.

Uniknya, para pekerja memiliki ekspresi wajah memelas, seperti hendak meminta tolong. Mereka seperti bekerja dalam suasana keterpaksaan. Mereka bertelanjang dada dengan hanya mengenakan celana panjang lusuh. Selain itu, sejumlah pria berwajah bengis berdiri mengawasi para pekerja. Boleh jadi para pekerja itu adalah orang-orang yang ketika hidupnya kerap meminta pesugihan.

Selanjutnya, Ahmad Durriati menceritakan saat bertatap muka dengan Roro Kidul. Menurutnya, Sang Ratu duduk di atas kursi singgasana yang lantainya berkedudukan lebih tinggi dari tempat ia duduk. Sejumlah dayang-dayang berdiri sambil membawa kipas.

Kemudian Sang Ratu memberinya sebuah nasehat yang bermakna tauhid. ‘’Mintalah segala sesuatu kepada Tuhanmu. Jangan meminta sesuatu apapun kepada saya, karena saya tidak berhak memberikannya. Apabila ada manusia yang meminta sesuatu kepada saya. Sebenarnya tidak pernah sekalipun saya memberikannya. Kalau ada manusia yang memuja saya dan meminta sesuatu kepada saya, maka yang memberikan permintaannya adalah dari kalangan warga kerajaan yang memang hendak menyesatkan manusia.’’ Demikian kata Kanjeng Ratu Roro kidul.

Sebuh nasehat tauhid yang boleh jadi meruntuhkan semua anggapan bahwa Kanjeng Ratu Roro Kidul sering mengabulkan permintaan manusia yang minta berkah dan pesugihan darinya.

Menurut Ahmad Durriati, apa yang ia alami dalam kondisi koma itu seperti sebuah pemberitahuan bahwa pemujaan dan minta pesugihan hanya sebuah kesia-siaan yang hanya menjatuhkan diri dalam kemusyrikan.

Kalapun ada manusia yang berhasil memperoleh harta atau kedudukan dari hasil pesugihan, itu tidak lebih dari pemberian syetan yang memang bertugas menyesatkan manusia.

Dalam akhir perjumpaannya, Ahmad Durriati diberi pilihan antara kembali ke keluarganya atau tetap tinggal di kerajaan Laut Selatan. Ahmad memilih yang pertama. Kemudian Sang Ratu mengangkat tongkat dan memukul pundaknya. Seketika ia tersentak dan sadar dari kondisi koma yang ia alami selama beberapa hari.

Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan: pertama, sosok Kanjeng Ratu Roro Kidul tidak pernah ada. Ia hanya dongeng yang beredar secara turun temurun. Sebuah cerita yang tentunya dihasilkan begawan sastra yang sangat mumpuni dalam mengolah bahan cerita.

Ketiga, Sosok Kanjeng Ratu Roro Kidul benar-benar ada. Ia bisa saja berasal dari jenis manusia yang menjadi siluman atau termasuk bangsa jin. Asal daerah pun bisa dari tanah Jawa atau dari luar Jawa.

Berdasarkan pengalaman Ahmad Durriati, kemungkinan Kanjeng Ratu Roro Kidul tergolong jin Muslim yang meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa.

pengalaman ke keraton dewi lanjar RATU PESUGIHAN DILAUT JAWA PEKALONGAN


pengalaman ke keraton dewi lanjar

Pagi itu, Selasa, 3 Mei 2005. Aku mengajak temanku pergi ke Pantai Slamaran yang berada di Kabupaten Pekalongan. Bukan untuk berdarmawisata, tapi untuk menjalankan sebuah ritual dari guruku. Sesuai dengan pesan dan ajaran guruku, sifat ritual yang aku lakukan ini memang harus selalu berendam di air laut tatkala menjalankannya.

Pantai Slamaran sendiri begitu cocok dijadikan sebagai tempat ritual, sebab sejak dulu pantai ini sudah aku kenal, tatkala aku sering main ke rumah saudaraku yang berada di Panjang Wetan, Pekalongan. Dengan alasan itulah aku menjadikannya sebagai ajang ritual khususku, yang memang sangat aku rahasiakan.

Di samping air laut serta pasirnya yang bersih, masyarakat di sekitar pantai ini pun sangat ramah tamah kepada setiap orang yang berkunjung. Karena itu tak heran jika kawasan pantai ini selalu dipadati pengunjung, terutama di hari libur.

Dengan alasan menghindari keramaian, maka aku sengaja memilih hari Selasa untuk datang ke pantai legendaris itu. Aku pun memililihnya pas tengah hari, ketika panas matahari menyengat, dan membuat orang enggan berada di sekitar pantai.

Ketika itu pas pukul sebelas siang aku dan temanku sampai di tempat tujuan. Angin laut yang semilir seolah menyambut kedatangan kami. Teriknya sinar mentari pun langsung terasa memanggang tubuh kami. Suasana pantai tampak sangat sepi. Hanya ada beberapa orang nelayan yang lalu lalang, atau sibuk merajur jaring.

Ombak datang silih berganti menambah indahnya Pantai Slamaran di siang nan terik itu. Air laut tampak berkilauan diterpa sinar mentari. Sambil menghilangkan rasa lelah karena perjalanan jauh, kami mampir di sebuah warung makan sambil menanyakan rumah kontrakan yang bisa disewa barang beberapa hari. Beruntung, si pemilik warung memberi tahu keberadaan rumah yang memang biasa dikontrakkan.

Setelah aku mendapat informasi tentang rumah kontrakan itu, aku langsung mendatangi pemiliknya. Tawar menawar pun terjadi dan akhirnya aku jadi mengontrak rumah tersebut.

Sesudah ditunjukkan tempat kontrakannya, aku jadi kaget. Kontrakan itu hanya sebuah bilik dari bambu tanpa kamar dan di dalamnya sudah banyak orang sebelum kami datang. Yang membuatku sangat kesal, laki-laki dan perempuan bercampur jadi satu di rumah sederhana itu.

Sialan! Aku memaki sendiri. Pikirku, sudah mahal sekali bayarnya, tempat hanya bilik seperti ini, dan orangnya juga sudah berjubel. Karena telanjur, aku pun harus menerimanya dengan hati mendongkol. Namun, lain kali tentu saja aku harus lebih berhati-hati.

Sambil menekan kejengkelan, aku bersama temanku aku langsung berbaur dengan orang-orang yang semula tidak aku ketahui apa maksudnya berkumpul di gubuk tersebut. Namun, dari beberapa obrolan mereka yang sempat terdengar, aku akhirnya jadi tahu semuanya. Yang punya kontrakan gubuk reot itu ternyata adalah juru kunci yang konon bisa mencari pinjaman dana gaibnya Dewi Lanjar. Dan, orang-orang tersebut berkumpul adalah untuk kepentingan yang sangat nyeleneh ini.

Aku dan temanku hanya geleng-geleng kepala. Namun yang tak habis kupikirkan, beberapa di antara mereka ada yang menyebut dirinya pernah berhasil dalam ritual gaib itu. Mungkinkah? Pertanyaan ini sungguh tak dapat aku pecahkan.

Tanpa mempedilukan aktivitas orang-orang itu, malam harinya, sekitar pukul 11.30 wib, dengan ditemani kawanku, aku mulai melakukan ritual yakni dengan berendam di pinggir Pantai Slamaran. Dinginnya air laut sangat terasa ke seluruh tubuhku. Ombak laut silih berganti menerpa sampai ke wajahku.

Semakin malam ombak kian bertambah besar. Air pun mulai pasang. Namun, kupertahankan posisiku agar tak oleng dari posisi duduk semula yang membentuk sikap bersemedi. Namun, diluar dugaan ombak laut semakin besar, dan air pasang kian meninggi. Dadaku terasa sesak akibat silih bergantinya ombak yang menerjangku.

Lama kelamaan kepalaku pusing, pandanganku pun berkunang. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Entahlah, mungkin aku tenggelam diseret ombak dan air pasang yang kian meninggi. Yang pasti, di saat aku tak sadarkan diri, seolah-olah aku dijemput dua orang yang bertubuh tinggi kekar dengan seragam ala prajurit keraton.

Kejadiannya begitu cepat. Kedua orang prajurit itu membawaku masuk ke sebuah istana yang sangat megah. Di dalam istana yang penuh pernak-pernik barang antik, ratusan prajurit dan dayang-dayang menyambutku dengan senyum penuh keramah-tamahan. Setelah memasuki beberapa ruangan dan melewati barisan prajurit, hulubalang, serta dayang-dayang yang seluruhnya seperti takjim padaku, akhirnya aku sampai dis ebuah ruangan yang jauh lebih indah dari yang lainnya. Di tempat inilah aku dihadapkan kepada sosok yang disapa sebagai Ibu Ratu. Dian adalah wanita yang sangat cantik dengan tubuh sentosa. Penampilannya terlihat sangat agung dengan mahkota bertatahkan intan berlian yang bertengger indah di kepalanya.

Kharisma serta kelembutan nada bicara Ibu Ratu seakan membuat seisi istana patuh dan sangat menghormatinya. Begitu pun yang kurasakan. Sekujur tubuhku serasa merinding saat mendengar nada suaranya yang merdu bak buluh perindu.

Setelah menghaturkan sembah ke Ibu Ratu, dua prajurit tadi mengajakku keliling istana. Dari satu tempat ke tempat yang lain.

Di tengah jalan aku bertemu dengan dua gadis cantik yang kemudian kuketahui bernama Sri Lorenza dan Sri Lopaka. Mereka berdua pun akhirnya ikut mendampingku jalan-jalan mengeliling berbagai tempat nan permai.

Akhirnya, tibalah aku bersama empat orang lainnya ke sebuah bangunan yang dikelilingi oleh sebuah sungai dengan air gemerlap. Setiap empat penjuru sungai ini terdapat satu jembatan menuju pintu masuk.

Saat akan melewati salah satu jembatannya, aku sangat terkejut. Betapa tidak! Yang menjadi pijakan jembatan tersebut bukan aspal atau bahan kayu lainnya, melainkan tubuh orang-orang yang diikat kepala serta kakinya. Mereka dijejerkan saling berlawanan arah, sehingga terhampar sedemikian rupa. Yang membuatku terkejut, semua orang yang menjadin alas jembatan itu masih dalam keadaan hidup.

Bergidik dan nger aku dibuatnya, hingga aku tak sanggup meneruskan langkahku. Melihat keterkejutanku, Sri Lorenza cepat-cepat memberi isyarat padaku untuk meneruskan perjalanan sampai ke bangunan yang ada di seberang sungai. Karena aku masih berdiri terpaku, gadis berlesung pipit itu akhirnya mengapit tanganku dan segera mengajak melangkah. Setelah itu, kami berlima menapakai jembatan yang terbuat dari anyaman tubuh manusia itu.

Seperti tak ada masalah, keempat orang itu menginjak satu demi satu orang-orang yang menjadi alasan jembatan, seakan mereka tak punya rasa kasihan sedikitpun. Dengan risih aku pun terus mengikuti langkah mereka. Ketika itulah dengan jelas aku mendengar dari mulut orang-orang itu jeritan yang sangat histeris. Ya, mereka menahan rasa sakit yang tak terperi. Ini juga jelas terlihat dari raut muka mereka yang tampak sedemikian menderita.

Sesampainya di ujung jembatan, aku menghentikan langkahku. Dengan sedikit memberanikan diri aku bertanya pada Sri Lorenza; “Sri Lorenza, apa yang menjadi penyebabnya hingga mereka semua diikat dan disiksa seperti itu?”.

“Mas, itu semua orang-orang serakah dimasa hidupnya. Mereka semua minta kekayaan pada Ibu Ratu dan ibunda pun memberikannya. Tetapi, setelah mereka jaya, semua tak mengakui pemberian tersebut. Karena itu mereka akhirnya disiksa seperti itu,” jelas Sri Lorenza.

Aku terbengong-bengong mendengar, sampai akhirnya gadis itu mengajakku, “Bila kau ingin tahu segalanya, ayo masuk ke dalam bangunan itu!”

Aku hanya mengikuti saja. Kami sama-sama melangkah ke arah bangunan yang dimaksud Sri Lorenza. Di depan pintunya kulihat dua penjaga yang bertampang brewok dan sangar. Begitu melihat kedatangan kami, mereka langsung membuka daun pintu. Terdengar suara berderit yang memecah keheningan. Lalu, apa yang terjadi?

Aku benar-benar tak kuat melihat pemandangan yang ada di dalam bangunan itu. Ratusan orang disiksa dengan sadisnya. Tubuh mereka tampak berdarah-darah, bahkan ada yang bola matanya pecah. Bekas cambuk tergores diseluruh badan mereka, darah menetes di sela luka menganga.

“Sri Lorenza, mengapa mereka disiksa seperti itu? Apa pula kesalahan mereka hingga tiada maaf untuk memperbaikinya?” Dengan suara gemetar aku kembali bertanya.

“Sudah terlambat bagi mereka untuk meminta maaf. Semasa hidupnya, mereka semua pemuja Ibunda Dewi Lanjar. Setelah ibunda memberi kekayaan, mereka semua meninggalkan kewajiban ibadah kepada Allah, berhaji, serta bersedekah. Mereka hanya mau enaknya saja tanpa mau bekerja, tanpa membantu orang susah, inginnya selalu berfoya-foya hingga ibunda marah dan menyiksanya seperti yang kau lihat saat ini,” Siri Lorenza menjelaskan.

Disaat aku sedang berbincang dengan Sri Lorenza, tiba-tiba dari kerumunan orang yang tengah disiksa, datang seorang nenek-nenek dengan badan bersimbah darah, serta baju yang robek-robek akibat cambukan para algojo.

Nenek itu mendekatiku sambil berkata, “Nak, tolonglah. Nenek sudah tak kuat. Nenek pingin mati saja, Nenek jera minta pesugihan. Tolonglah, Nak!”

Aku hanya tergagap-gagap mendengar permohonan si nenek. Sebelum sempat kubuka mulutku, tiba-tiba datang seorang algojo bertubuh perkasa yang langsung menarik paksa rambut si nenek menuju tempat penyiksaan. Nenek itu terjungkal. Tangisan serta raungannya membuatku tak sadarkan diri lagi. Ya, tiba-tiba pandanganku menjadi gelap gulita. Tanah yang kupijak pun seperti bergetar hebat, seolah ada gempa….

Apa yang nampak di depan mataku selanjutnya sungguh sesuatu yang sulit diterima akal sehat. Setelah aku siuman, kulihat di sekelilingku telah banyak orang dengan raut muka cemas memandangku yang terbaring lemah.

“Ada apa ini?” aku bertanya pada mereka.

“Alhamdulillah, kau sudah sadar!” kata Marwan, temanku yang selalu setia menyertaiku perjalananku.

“Memangnya aku ini kenapa?” aku kembali bertanya.

“Kau sudah tak sadarkan diri selama dua hari dua malam!” jawab Marwan.

Begitu kagetnya mendengar jawaban Marwan, sampai aku terduduk sambil memandang ke sekeliling. Aneh, aku tidak lagi berada di depan gedung tempat penyiksaan itu, melainkan di sebuah rumah yang sangat sederhana. Aku tak habis pikir, kurasa baru dua jam aku dibawa bangsa halus, tapi Marwan bilang sudah dua hari aku tak sadarkan diri.

Menurut Marwan, malam itu dia melihatku tenggelam. Karena itu dia segera mencebur ke luat dan berusaha menolongku. Beruntung, Marwan dapat menyeret tubuhku ke darat. Tapi, sejak kejadian itu aku tak sadarkan diri sampai dua hari lamanya.

Apa yang terjadi menimpaku di Pantai Slamaran, sungguh kenyataan yang sulit diterima akal sehat. Tapi, bagiku ini merupakan pengalaman yang sangat berharga sekali, yang sekaligus menjadi indikasi bahwa memang terdapat ruang gaib bagi mereka yang ingin melakukan pesugihan.

Akhirnya, semoga kiranya ceritaku ini bermanfaat. Pesanku, hendaknya kita selalu berhati-hatilah dalam menjalankan sebuah kehidupan nan fana ini